Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN PURBALINGGA

Jalan Mayor Jendral D.I Panjaitan No. 115A Purbalingga 53311
https://purbalingga.kemenag.go.id

Motor Tua, Cinta Tak Pernah Usang: Hangatnya Masjid Ramah Pemudik Menguatkan Perjalanan Seorang Ayah

Purbalingga (Humas) – Di balik deru motor tua yang nyaris tanpa identitas, tersimpan kisah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu. Seorang ayah, sebut saja Purwanto, dengan segala keterbatasannya, menempuh perjalanan jauh dari Bantul/Yogyakarta menuju Moga, Pemalang, demi menjemput putra tercintanya, sebut saja Dimas, yang mondok di Pondok Pesantren Al-Munawar.

Cerita MRP
Penyuluh Agama Islam KUA Mrebet, Ngato Urrokhman (kiri) saat menyambut pemudik Ayah dan Anak yang singgah di Masjid Cheng Hoo, Mrebet, Sabtu (14/3/2026).

Motor yang dikendarainya sederhana—bahkan boleh dibilang “butut” dan tanpa pelat nomor. Namun semangatnya melampaui segala keterbatasan itu. Sang ayah, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang asongan di kawasan perempatan kota Bantul, tak pernah berhitung soal lelah. Baginya, kepulangan sang anak adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Anaknya telah tiga tahun mondok sejak kelas 3 MI di bawah asuhan Kyai Saiful Hadi. Kini, ia duduk di bangku kelas 6 MI Dwi Maditoh Moga. Di tengah keterbatasan keluarga—orang tuanya telah berpisah—anak itu tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan: cerdas, peraih peringkat satu di kelas, dan telah khatam Juz Amma.

Perjalanan pulang keduanya tak mudah. Bekal yang dibawa sang ayah semakin menipis di perjalanan. Saat tiba di kawasan Masjid Cheng Hoo, uang yang tersisa hanya sekitar Rp78.000, setelah sebelumnya digunakan untuk makan seadanya dan mengisi bahan bakar.

Di titik itulah, kehangatan Masjid Ramah Pemudik (MRP) terasa nyata.

Ngato Urokhman, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mrebet yang saat itu, Sabtu (14/3/2026) sedang bertugas, menyambut keduanya dengan penuh empati. Ia mengajak mereka beristirahat, menikmati kopi hangat, serta makan siang sederhana—Pop Mie dan roti kering. Di tengah kesederhanaan itu, terselip rasa syukur dan kelegaan.

Tak hanya itu, perhatian juga diberikan kepada sang anak yang tampak berjalan kurang nyaman akibat penyakit kulit (gudik) yang dideritanya. Beruntung, di sekitar masjid terdapat apotek. Ngato pun sigap membelikan salep untuk membantu pengobatan.

Menjelang sore, selepas salat Ashar, keduanya bersiap melanjutkan perjalanan. Menyadari bekal sang ayah yang hampir habis, Ngato pun memberikan bantuan secukupnya agar perjalanan mereka dapat berlanjut hingga sampai di rumah.

Namun, ada satu momen yang begitu membekas.

Saat sang ayah menerima bantuan itu, ia justru memberikannya kepada sang anak. Senyum tulus terpancar dari wajah bocah tersebut—senyum yang sederhana, namun sarat makna. Sebuah potret kasih sayang yang mengalir tanpa syarat, di tengah keterbatasan yang ada.

“Saya jadi terharu melihat senyumnya. Apalagi saya punya anak seusia dia,” ungkap Ngato lirih.

Sementara itu, sang ayah tak mampu menyembunyikan rasa harunya atas pelayanan yang ia terima di Masjid Ramah Pemudik.

“Saya sangat senang. Petugasnya ramah, pelayanannya memuaskan. Tempatnya bersih, fasilitasnya lengkap, dan saya sangat terbantu. Terima kasih sekali atas bantuannya. Alhamdulillah, Masya Allah,” tuturnya penuh syukur.

Masjid Jami’ PITI Muhammad Cheng Hoo di desa Selaganggeng kecamatan Mrebet Purbalingga (foto google)

Kisah ini menjadi potret nyata bagaimana Masjid Ramah Pemudik bukan sekadar tempat singgah, tetapi juga ruang tumbuhnya empati, kepedulian, dan kemanusiaan. Di sana, setiap musafir disambut bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai saudara.

Di tengah perjalanan panjang dan keterbatasan, cinta seorang ayah dan hangatnya uluran tangan sesama menjadi bahan bakar yang sesungguhnya—menguatkan langkah, hingga tujuan tercapai.

Editor : Sri Lestari

Foto : Dok MRP Cheng Hoo

Post Relate

Translate »
Skip to content