Kegiatan olimpiade/kompetisi mata pelajaran (mapel) matematika merupakan agenda rutin dunia pendidikan. Dalam satu tahun, ada lebih dari satu even lomba, karena selain Olimpiade/Kompetisi Nasional (OSN/KSM), berbagai perguruan tinggi dan lembaga bimbingan belajar mengadakan kegiatan sejenis. Setiap madrasah/sekolah berusaha mengikutsertakan siswanya dalam kegiatan tersebut. Selain untuk mengembangkan potensi siswa, gelar juara pada kompetisi menjadi ‘prestise’ tersendiri bagi madrasah/sekolah.
Biasanya siswa yang dikirim untuk mengikuti olimpiade adalah peraih rangking tertinggi di madrasah/sekolah. Jauh sebelum pelaksanaan, madrasah/sekolah mengadakan berbagai persiapan. Selain seleksi intern, pelatihan diwujudkan dalam bentuk pelatihan/pembimbingan rutin. Materi pelatihan selain penambahan konsep sesuai kisi-kisi, yang terbanyak adalah latihan soal. Madrasah/sekolah kecil cukup pe de dengan pelatih guru sendiri, madrasah/sekolah besar juga pe de dengan mendatangkan pelatih dari luar atau bahkan dosen-dosen perguruan tinggi.
Apakah hasilnya memuaskan? Bahkan ada peserta mendapatkan nilai minus. Hal ini terjadi jika jawaban salah mendapatkan skor minus/mengurangi nilai, dan peserta tersebut lebih banyak memberikan jawaban salah daripada yang benar. Sebab berikutnya terletak pada soal-soal olimpiade, yang merupakan soal High Order Thingking Skills (HOTS). Untuk menyelesaikan soal HOTS dituntut kemampuan transfer satu konsep ke konsep lain, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menelaah dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah. Selain perlu banyak latihan, hasil terbaik dalam penyelesaian akan muncul dari siswa yang memang berbakat.
Miller dalam Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Buku A Edisi Revisi (2017) mengatakan siswa dengan bakat matematika luar biasa merupakan 2% hingga 3% dari populasi siswa di dunia. Beberapa siswa tersebut tidak menunjukkan prestasi akademik yang menonjol, tidak menunjukkan antusiasme dalam mengikuti pembelajaran, atau tidak menempati rangking tinggi di kelas. Salah satu faktor penyebab mereka tidak menunjukkan keunggulannya adalah pola pembelajaran yang kurang mengakomodasi perbedaan individu dan gaya mengajar yang kurang fleksibel.
Bagaimana guru dapat menemukan siswa berbakat yang persentasenya kecil dan tidak menonjol seperti yang diungkap Miller? Menurut Sheffield dalam Modul PKB Matematika A (2017) guru harus melakukan pengamatan terutama saat siswa bekerja memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya meningkat atau yang di desain untuk mengetahui siswa yang berkemampuan matematis tinggi.
Sebagai tahap awal, guru setelah membahas satu konsep dapat melontarkan pertanyaan ringan yang menggelitik. Pertanyaan tersebut bisa berupa ‘joke’ tapi mengandung konsep yang sesuai. Jika ada siswa ‘biasa-biasa saja’, tiba-tiba spontan memberikan jawaban yanng juga menggelitik, maka kemungkinan dia berbakat.
Tahap selanjutnya, seperti yang penulis lakukan di MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga adalah mengikut sertakan siswa tersebut pada seleksi intern dan pelatihan persiapan olimpiade. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Meskipun belum optimal, siswa tersebut menempati hasil lebih tinggi daripada yang lain. Pada pengalaman penulis, siswa tersebut baru duduk di kelas 7, ketika diikutkan pada salah satu olimpiade, dia menduduki peringkat yang lebih tinggi daripada kakak kelasnya yang rangking 1 paralel kelas 8.
Jadi, cobalah misalnya setelah membahas konsep lingkaran, ajukan pertanyaan, “Mengapa lingkaran selalu kepanasan?”. Lalu lihatlah, kalau ada siswa yang biasanya tidak antusias mengikuti pembelajaran, tiba-tiba menjawab, “Karena dia 360 derajat”’ maka bersiaplah mendampinginya menuju olimpiade matematika dunia.
*) Penulis adalah guru Matematika MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga
Penulis: Dyah Kusmiarti, Guru Matematika MTs Muhammadiyah 01 Purbalingga