Literasi Sehati, oleh Sri Maulidah Isrofiyatun, Guru Bahasa Indonesia di MTs Negeri 1 Purbalingga
Bahasa merupakan salah satu aspek yang memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Penting tidaknya sebuah bahasa dapat dilihat dari segi pemanfaatannya. Melalui bahasa seseorang dapat berkomunikasi serta menyampaikan gagasan atau ide yang ada dalam pikirannya. Karena begitu vital peranannya dalam kehidupan, maka bahasa pun dimasukkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah, khususnya tentang mata pelajaran bahasa Indonesia.

Sebagai sarana ilmu, bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang paling pokok di sekolah. Salah satu aspek dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat komponen tersebut saling berkaitan satu sama lain dan memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Sehubungan dengan itu, Lestari (2022) mengatakan bahwa keterampilan bahasa juga dibagi menjadi dua kelompok besar, pertama keterampilan reseptif, mencakup kemampuan menyimak dan membaca. Kedua, keterampilan produktif, yaitu meliputi kemampuan berbicara dan menulis.
Keterampilan menulis sebagai salah satu komponen keterampilan bahasa merupakan komponen yang harus diberi perhatian khusus karena seseorang tidak akan langsung mahir dalam menulis sesuatu tanpa adanya latihan-latihan atau pembelajaran menulis terlebih dahulu.
Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran di sekolah merupakan proses interaksi antara guru dan siswa. Seorang guru dikatakan berhasil dalam mengajar apabila ia mampu menyajikan materi dengan baik sehingga dapat menarik minat siswa untuk belajar yang berujung pada tercapainya standar kompetensi yang ada di sekolah. Pencapaian guru dalam mengajar siswanya pun tak lepas dari cara atau proses menyampaikan sebuah pelajaran.
Penyajian materi pelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar sampai saat ini masih berorientasi penuh terhadap guru. Guru sebagai pemegang kendali dalam proses belajar mengajar hanya terpaku pada teks dan hanya menyampaikan materi pelajaran dengan ceramah. Artinya, guru hanya menjelaskan setiap materi yang ada dalam buku teks sembari mengarahkan siswa-siswanya untuk mengerjakan tugastugas yang ada di dalam buku teks tersebut baik secara individu maupun secara berkelompok tanpa adanya variasi pembelajaran.
Pembelajaran yang hanya dilakukan dengan menggunakan buku teks dan ceramah tanpa menggunakan media tertentu sebagai variasi dalam proses pembelajaran cenderung membuat siswa malas, bosan atau bahkan jenuh terhadap pelajaran yang disampaikan, khususnya dalam hal menulis cerpen. Kemunculan rasa malas, bosan, atau jenuh tentu saja akan berdampak buruk bagi siswa karena akan membuat semangat dan motivasi mereka dalam belajar akan menurun dan akan berakibat buruk bagi prestasi mereka di sekolah. Oleh karena itu, seorang guru haruslah membuat suatu kegiatan belajar yang kreatif dan inovatif sehingga mampu menarik kembali minat siswa dalam belajar.
Salah satu cara kreatif dan inovatif yang dapat dilakukan dalam menyampaikan pelajaran adalah dengan penggunaan media gambar berseri. Dengan adanya media gambar berseri maka siswa akan lebih bergairah dalam mengikuti proses pembelajaran. Media gambar berseri pada umumnya hampir sama dengan media gambar lainnya. Namun, media gambar berseri memiliki rangkaian peristiwa atau kejadian yang saling berhubungan satu dengan yang lain.
Dalam perkembangannya, keberadaan media gambar berseri sebagai suatu sarana yang digunakan guru untuk melihat keefektifan siswa dalam kegiatan menuli cerpens. Penggunaan media gambar berseri sangat efektif digunakan dalam pembelajaran menulis narasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa siswa yang menggunakan media gambar seri dalam proses pembelajaran memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan siswa yang tidak menggunakan media gambar seri dalam proses pembelajaran.
Menulis adalah perilaku, perbuatan. Bukan hanya pengetahuan dan pemahaman. Menurut Tarigan (2022: edisi revisi), menulis adalah teks kemampuan berbahasa yang digunakan untuk menyatakan pikiran dan perasaan secara tertulis sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Sejalan itu, menurut Nurjamal dan Sumirat (2022), mengatakan bahwa menulis adalah proses komunikasi tidak langsung yang memerlukan penguasaan bahasa tulis serta kemampuan menyusun informasi secara logis dan sistematis. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.
Menurut Koesnosoebroto (2021), cerpen adalah cerita fiksi yang menampilkan permasalahan sederhana dan penyelesaian yang cepat karena ruang ceritanya singkat.
Langkah-langkah menulis cerpen menurut Dalman (2021) yaitu, pertama, menentukan topik atau tema. Kedua, mengumpulkan bahan atau ide . Ketiga, menyusun kerangka cerita. Keempat, mengembangkan kerangka menjadi draf cerpen. Kelima, merevisi dan menyunting.
Efektivitas penggunaan media gambar seri dalam pembelajaran menulis teks cerpen ditemukan bahwa media gambar seri efektif digunakan untuk meningkatkn kemmpuan menulis cerpen siswa MTs. Dari hasil pre-test dan post-test , kelas yang menggunakan media gambar seri menunjukkan peningkatan signifikan disbanding kelas control. Sakaria dan rekan-rekan (2022).
Menurut Sari dan Prasetyo (2022), media gambar seri merupakan rangkaian gambar yang disusun secara berurutan untuk membantu peserta didik memahami alur cerita, mengembangkan imajinasi, serta meningkatkan kemampuan menulis dan bercerita.
Kemampuan menulis cerpen siswa sebelum diterapkan media gambar berseri dikategorikan rendah. Pada proses pembelajaran ini, siswa terlihat jenuh karena proses pembelajaran hanya didominasi oleh guru, sehingga memengaruhi kemampuan dan hasil belajarnya.. Hasil pembelajaran yang diperoleh siswa pada saat pretes cenderung rendah, hal ini dikarenakan tidak adanya gairah siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak termotivasi untuk menyelesai tugas dengan baik. Para siswa terkesan malas memfokuskan pikirannya terlalu lama pada pembelajaran. Pada proses ini, guru kewalahan mengelola kelas karena harus lebih banyak aktif dalam memberi penjelasan karena siswa cenderung menunggu jawaban dari guru untuk pertanyaanpertanyaan baik itu dari siswa maupun dari guru sendiri.
Kemampuan menulis cerpen siswa setelah diterapkan media gambar berseri dikategorikan tinggi. Pada proses pembelajaran ini, siswa terlihat lebih antusias karena pada proses pembelajaran telah digunakan gambar berseri sebagai media pembelajarannya. Pada saat guru memberikan penjelasan mengenai cerpen, sebagian besar siswa memperhatikan penjelasan tersebut dan fokus terhadap materi cerpen yang diajarkan oleh guru. Tampaknya semua siswa lebih mampu mengembangkan daya imajinasi dan kreativitasnya dalam menulis cerpen. Kemampuan mengembangkan ide dan gagasan pokok cerita dinilai sangat kreatif, hal ini disebabkan karena adanya media gambar berseri sebagai perangsang daya imajinasi sehingga menimbulkan kesan relaks, santai, dan membuat siswa lebih fokus dan konsentrasi dalam menulis cerpen.
Dengan demikian, keterampilan menulis cerpen siswa yang menggunakan media gambar berseri berada pada kategori tuntas. Penggunaan media gambar berseri efektif diterapkan dalam pembelajaran menulis cerpen karena memenuhi indikator keefektifan pembelajaran