Purbalingga (Humas) โ Suasana khidmat menyelimuti prosesi ikrar mualaf seorang warga negara asing (WNA) asal Tiongkok, Mao Zili (30) yang resmi memeluk agama Islam pada Kamis (02/04/2026).

Pengucapan dua kalimat syahadat dilaksanakan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Prosesi dipandu oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kejobong, Joko Waluyo, serta disaksikan oleh dua orang saksi untuk memastikan keabsahan pelaksanaan ikrar.
Dengan penuh kesungguhan, Mao Zili mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda resmi menjadi seorang Muslim. Meski berlangsung sederhana, prosesi tersebut sarat makna spiritual dan berjalan dengan lancar.
Penyuluh Agama Islam, Joko Waluyo, menyampaikan bahwa proses masuk Islam dilakukan secara sadar tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Sebelum ikrar dilaksanakan, Mao Zili telah mendapatkan pembinaan serta pemahaman dasar mengenai ajaran Islam.
โIkrar ini merupakan bentuk kesadaran dan pilihan pribadi. Kami memastikan bahwa yang bersangkutan memahami makna syahadat serta konsekuensi menjadi seorang Muslim,โ ujar Joko Waluyo.

Layanan Keagamaan
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Kejobong, Amin Yusuf, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan layanan keagamaan yang prima, inklusif, dan humanis kepada seluruh masyarakat, termasuk warga negara asing.
โKami berupaya menghadirkan layanan yang mudah, ramah, dan profesional. Setiap proses kami pastikan berjalan sesuai prosedur, namun tetap mengedepankan pendekatan humanis agar masyarakat merasa nyaman dan terlayani dengan baik,โ ungkap Amin Yusuf.
Ia juga menambahkan bahwa KUA Kejobong tidak hanya memfasilitasi proses ikrar, tetapi juga memberikan pendampingan lanjutan bagi mualaf agar dapat memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.
โKami siap mendampingi para mualaf melalui pembinaan berkelanjutan, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan beragama dengan baik, penuh keyakinan, dan istiqamah,โ imbuhnya.
Aplikasi Penerjemah
Di balik keterbatasan bahasa, terdapat kisah unik yang mewarnai proses tersebut. Mao Zili tidak dapat berbahasa Indonesia maupun Inggris, sehingga komunikasi selama proses pembinaan hingga ikrar dilakukan dengan bantuan aplikasi Google Translate. Bahkan, petugas KUA sempat mencari cara terbaik untuk berkomunikasi sebelum akhirnya memanfaatkan teknologi tersebut sebagai jembatan pemahaman.
Melalui aplikasi penerjemah, Mao Zili menyampaikan kesan mendalam atas pelayanan yang diterimanya.
โPelayanan di KUA sangat ramah. Mereka sangat membantu saya dalam proses mengucapkan syahadat. Meskipun saya tidak bisa berbahasa Indonesia atau Inggris, saya tetap merasa dipahami dan didukung,โ ungkapnya.
Ia juga mengaku merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam momen penting tersebut.
โSaya merasa tenang dan bahagia. Semua orang di sini baik kepada saya. Ini adalah pengalaman yang sangat berarti dalam hidup saya,โ tambahnya.
Lebih lanjut, Mao Zili mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak memiliki keyakinan agama. Namun, setelah mengenal seorang warga Indonesia asal Desa Krenceng, Kecamatan Kejobong, melalui media sosial, yang berkomunikasi secara rutin menggunakan Google Translate, hatinya mulai tergerak untuk mengenal Islam lebih dalam.
โAwalnya saya tidak punya agama. Tapi setelah saya mengenal dan belajar tentang Islam, hati saya berubah. Saya ingin menjadi Muslim dengan kesadaran saya sendiri,โ tuturnya.
Prosesi ini menjadi momen penuh haru sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam bersifat universal dan dapat diterima oleh siapa pun tanpa memandang latar belakang bangsa, budaya, maupun bahasa.
Dengan resmi mengucapkan syahadat, Mao Zili kini menjadi bagian dari umat Islam dan diharapkan dapat menjalani kehidupan baru dengan penuh ketenangan, keimanan, dan istiqamah.
Kontributor : Irfan
Editor : Sri Lestari
Foto : Dimas K