Edisi 75, oleh Eva Lutfiati Khasanah, S.H. (Penyuluh Agama Islam KUA Karangreja)
Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati menjadi satu, tetapi menikah juga menyatukan dua insan berpikir dari latar belakang yang berbeda dan juga menyatukan gaya komunikasi antar keduanya. Bimbingan pra-nikah mempunyai peran penting untuk membantu calon pengantin sehingga mereka memahami bagaimana cara membangun komunikasi yang sehat dan terbuka sebelum menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Disinilah penyuluh Agama Islam berperan sangat besar dalam membina calon pengantin, penyuluh agama Islam tidak hanya menyampaikan materi tentang agama, tetapi juga sebagai pendamping calon pengantin dalam menyiapkan diri secara mental, emosional dan spiritual. Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh penyuluh Agama Islam Kecamatan Karangreja adalah menggunakan komunikasi empatik.
Di tengah meningkatnya dinamika kehidupan rumah tangga, banyak pasangan muda menyadari bahwa persoalan dalam pernikahan bukan semata – mata tentang ekonomi atau kesibukan antar keduanya, tetapi permasalahan dalam rumah tangga itu muncul dari hal yang sederhana, yaitu cara mereka berkomunikasi. Tidak heran, bimbingan pra nikah kini menjadi ruang penting untuk mempersiapkan pengantin dalam menghadapi kehidupan berumah tangga.
Salah satu pendekatan yang mulai dilirik dan terbukti efektif dan terbukti adalah komunikasi empatik, Komunikasi empatik, apa itu? Komunikasi empatik adalah kemampuan untuk mendengarkan secara penuh apa yang calon pengantin sampaikan, memahami perasaan dan merespon dengan lembut dan relevan apa yang diungkapkan oleh calon pengantin.
Dalam konteks bimbingan pra nikah ini, kemampuan komunikasi empatik ini sangat penting karena dalam berumah tangga pasti sering terjadi adanya konflik atau masalah, permasalahan dalam rumah tangga itu muncul karena diawali dari miskomunikasi dan kegagalan memahami perasaan pasangan. Dengan kita memahami komunikasi Empatik, pasangan bisa mendengarkan curahan hati pasangan dengan cara menjadi pendengar yang aktif, memahami perspektif pasangan, mersepons tanpa menghakimi dan menyampaikan perasaan dengan cara yang lebih lembut dan terarah.
Di dalam bimbingan pernikahan ini penyuluh Agama Islam memanfaatkan pendekatan untuk membantu calon pengantin belajar mengenali pola komunikasi masing – masing pasangan dan memperbaiki bagian yang rentan memicu konflik.
Peran Penyuluh Agama Islam Dalam menghadirkan Komunikasi Empatik
- Membimbing pasangan untuk saling Mendengarkan
Banyak pasangan yang menyadari bahwa mereka sering mendengar pasangannya pada saat berbicara, tetapi mereka tidak benar – benar mendengarkan. Dalam hal ini penyuluh Agama membantu calon pengantin untuk memahami keduanya, sekaligus calon pengantin dilatih teknik “listening with heart”.
- Mengajarkan Cara Menyampaikan Perassan Tanpa Menyerang
Dengan pasangan kita tidak boleh melakukan serangan secara verbal, berbicara dengan nada suara tinggi,atau menggunakan bahasa tubuh, karena itu semua dapat memicu terjadinya konflik. Penyuluh agama Islam mengajarkan kepada Calon Pengantinuntuk menyampaikan perasaan dengan bahasa yang lembut, contohnya “Aku merasa….”bukan “Kamu selalu…”
- Menumbuhkan Kesadaran Emosional
Melalui sesi diskusi, penyuluh agama Islam membantu calon pengantin menyadari pola komunikasi yang mereka miliki, termasuk reaksi emosional yang mungkin mereka berdua tidak sadari.
Dampak Nyata bagi Calon Pengantin
Para calon Pengantin merasa lebih memahami bagaimana cara menghadapi pasangan apabila mereka sedang emosi, mereka menjadi lebih tenang, tidak mudah marah dan mampu mencari solusi bersama. Bimbingan pernikahan ini membantu pasangan lebih siap menghadapi perbedaan karakter, karena pada akhirnya pernikahan itu bukan hanya tentang cinta, tetapi pernikahan itu bisa membuat kita mengelola komunikasi yang baik dan sehat dalam rumah tangga.