Edisi 81, oleh: Tim Kreatif Kemenag Purbalingga
Perjalanan Tahun 2025 menjadi sebuah perjalanan penuh nilai religius ekologis, bagaimana sebuah institusi tidak hanya bergerak secara birokratis, tetapi juga secara teologis. Di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, gerak langkah kami sepanjang tahun ini diringkas dalam sebuah komitmen kuat bertajuk Eco Office, Zona Ramah Lingkungan. Dengan tagline “Nandur Becik, Ati Resik”, kami mencoba menerjemahkan visi Asta Protas Menteri Agama ke dalam sebuah aksi nyata bernama Kemenag Asri.
Menanam Kebaikan, Menyucikan Hati
Implementasi Eco Office di Kemenag Purbalingga bukanlah sekadar mengikuti tren hijau global. Ini adalah manifestasi dari Ekoteologi sebuah pemahaman bahwa merawat bumi adalah bagian integral dari iman. Gerakan ini juga menjadi upaya menjawab terjadinya krisis iklim di wilayah Jawa (Sumber DLH Purbalingga). Tagline “Nandur Becik, Ati Resik” mengandung filosofi mendalam, bahwa setiap pohon keras dan tanaman hias yang kita tanam di halaman kantor adalah simbol dari penanaman benih kebaikan dalam jiwa. Ketika tangan kita bergerak menanam suatu kebaikan mewujudkan lingkungan kita bersih dan hijau, ia memantulkan kejernihan hati para pelayan masyarakat di dalamnya.
Langkah konkret telah diambil. Kantor kini rindang oleh pepohonan dan tanaman hias yang menyaring polusi sekaligus menyegarkan pikiran. Di ruang-ruang kerja, transformasi digital melalui e-Digital telah memangkas penggunaan kertas secara signifikan. Penghematan energi listrik dan air bukan lagi sekadar himbauan, melainkan protokol tetap. Bahkan, pemandangan meja kerja kini berubah; botol minum plastik siap teguk telah digantikan oleh tumbler pribadi sebagai upaya nyata meminimalisir sampah plastik.
Antara Kontinuitas dan Diskontinuitas
Namun, tantangan terbesar bukanlah pengadaan fasilitas, melainkan membangun pembiasaan atau culture set pegawai. Dalam melihat perubahan perilaku ini, kita dapat bercermin pada teori Kontinuitas dan Diskontinuitas.
Mari kita analogikan dengan proses pengolahan pangan: Beras berubah menjadi nasi. Nasi bertransformasi menjadi bubur. Bubur secara inkremental meningkat nilainya menjadi kerak, rengginang, atau kerupuk gendar. Dalam proses ini, terjadi diskontinuitas bentuk. Beras yang keras harus hancur dan kehilangan wujud aslinya untuk menjadi nasi. Nasi pun harus merelakan bentuknya demi menjadi rengginang yang renyah. Begitu pula dengan budaya kerja kita. Kebiasaan lama yang boros kertas, ketergantungan pada air kemasan plastik, dan ketidakpedulian pada pemilahan sampah organik, anorganik, serta B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) harus kita “hentikan” atau diskontinu-kan. Wujud lama itu harus mati agar muncul wujud baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun, di tengah perubahan bentuk tersebut, ada hal yang tetap kontinu (berlanjut): yaitu fungsi, manfaat, dan daya gunanya. Meski wujudnya berubah dari beras menjadi kerupuk gendar yang bernilai ekonomi lebih tinggi, hakikatnya sebagai sumber manfaat tetap ada, bahkan meningkat. Sama halnya dengan program Eco Office ini. Bentuk pelayanannya mungkin berubah menjadi serba digital dan ramah lingkungan, namun substansi pengabdian kita kepada masyarakat dan Tuhan tetap kontinu, bahkan daya gunanya meningkat karena dilakukan dengan cara yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menuju Masa Depan yang Asri
Menutup tahun 2025, refleksi ini membawa kita pada satu kesadaran menjadi pribadi yang “Asri” membutuhkan konsistensi. Pemilahan sampah di tong yang berbeda bukan sekadar membuang limbah, tapi memilah antara yang manfaat dan yang madarat.
Kemenag Purbalingga telah memilih untuk bertransformasi. Kita telah merelakan “bentuk” lama yang tidak ramah lingkungan demi mencapai derajat “manfaat” yang lebih tinggi bagi semesta. Dengan semangat Nandur Becik Ati Resik, mari kita pastikan bahwa apa yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan keberlanjutan bagi anak cucu kita, sekaligus menjadi saksi pengabdian yang tulus di hadapan Sang Pencipta. Kemenag Purbalingga ”Menginspirasi”