Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga

Menemukan Rumah: Saat Kita Merasa Lengkap Hanya dengan Duduk Bersama

Edisi 70, oleh Wisnu Adi Saputra (CPNS Pranata Komputer Kankemenag Purbalingga)

Sering kali, ketika kita mendengar kata rumah di lingkungan kantor, pikiran kita langsung tertuju pada hal-hal fisik—ruang kerja yang nyaman, kursi yang menopang punggung dengan baik, atau sudut pantry tempat kita mencari jeda di antara tumpukan pekerjaan. Namun sesungguhnya, “rumah” di dunia kerja bukanlah tempat, melainkan rasa. Ia hadir dalam bentuk hubungan emosional dan psikologis yang tumbuh perlahan-lahan, seiring waktu, di antara orang-orang yang berbagi tujuan dan tekanan yang sama.

Ada momen-momen kecil yang membuat kita menyadari hal itu—mungkin ketika seseorang tanpa diminta membawakan kopi saat kita tampak kewalahan, atau saat tawa spontan pecah setelah jam panjang yang melelahkan. Dari momen sederhana seperti inilah ruang kantor yang tadinya biasa berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat. Rekan kerja yang awalnya hanya kita kenal lewat email dan rapat mingguan, perlahan-lahan berubah menjadi teman seperjuangan, bahkan keluarga kedua.

Menciptakan momen “Duduk Bersama” bukan sekadar mengumpulkan orang dalam satu ruangan. Ini adalah tentang menciptakan rasa aman. Tentang memberikan ruang di mana pendapat paling polos hingga ide paling berani bisa muncul tanpa takut dinilai. Di sinilah kolaborasi menemukan bentuknya yang paling jujur—ketika setiap orang berani salah karena tahu bahwa timnya tidak menertawakan, tetapi membantu menyempurnakan. Kita belajar bahwa keberanian dalam bekerja tidak datang dari kepercayaan diri semata, melainkan dari dukungan orang-orang di sekitar kita.

Pada akhirnya, semua pencapaian besar pada suatu proyek akan menjadi catatan di masa lalu. Reward dan bonus yang kita terima akan habis dipakai. Bahkan sistem dan teknologi yang kita banggakan hari ini akan digantikan oleh hal yang lebih baru. Tetapi ada satu hal yang tidak mudah pudar: kenangan. Kenangan tentang tawa renyah di tengah lembur, percakapan jujur saat makan siang, atau uluran tangan diam-diam ketika kita mengalami masa sulit.

Memori seperti inilah yang menjadikan sebuah tempat terasa seperti rumah. Sebuah ruang di mana kita tidak hanya bekerja, tetapi juga tumbuh. Tempat di mana kita merasa dilihat, didengar, dan diterima apa adanya.

Dan mungkin, ketika kita dapat duduk bersama tim kita—dengan tenang, nyaman, dan tanpa topeng—saat itulah kita menyadari bahwa di tengah hiruk pikuk dunia kerja yang keras, kita sebenarnya telah menemukan rumah kedua kita. Rumah yang tidak dibangun dari tembok, tetapi dari kepercayaan dan kebersamaan.

Post Relate

Translate »
Skip to content