Oleh: Agung Wisnu Aji, S.Pd., M.Pd. (Guru Ahli Madya Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada MTs Negeri 2 Purbalingga)
Kita patut bangga dengan keberhasilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan bahkan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Predikat ini tidak lahir begitu saja, perlu kerja keras membangun Zona Integritas. Berbagai kebiasaan lama dibenahi. Pelayanan ditata. Pengawasan diperkuat. Transparansi didorong. Pungutan yang tidak semestinya harus ditinggalkan. Pegawai dituntut memberikan pelayanan yang semakin cepat, ramah, bersih, dan profesional.
Seluruh perubahan itu diawali dari perubahan yang sangat mendasar pada diri seluruh pegawai. Perubahan mendasar tersebut adalah perubahan pada mindset. Perubahan dari fixed mindset menjadi growth mindset. Jika seluruh pegawai sudah memiliki growth mindset maka perububahan-perubahan yang lainnya akan lebih mudah terlaksana. Sebaliknya jika pegawai masih memiliki fixed mindset maka perubahan akan sulit terwujud.
Apakah growth itu ?
Growth Mindset atau Pola Pikir Berkembang adalah pola pikir yang menganggap keberhasilan dan kemampuan seseorang dapat berkembang melalui waktu, usaha, dan ketekunan. Orang dengan growth mindset percaya bahwa keterampilan dan kecerdasan mereka dapat ditingkatkan melalui upaya dan ketekunan. Mereka merangkul tantangan, bertahan melalui hambatan, belajar dari kritik, dan mencari inspirasi dari kesuksesan orang lain.
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Profesor Carol Dweck dari Stanford University dalam bukunya yang berjudul “Mindset: The New Psychology of Success”. Growth mindset penting karena memiliki sejumlah manfaat yang dapat membantu seseorang dalam berbagai aspek kehidupan.
Secara sederhana, growth mindset adalah pola pikir yang memandang kemampuan bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya tetap, tetapi sesuatu yang dapat dikembangkan.
Perbedaan Growth Mindset dengan Fixed Mindset
Lawan dari growth mindset adalah fixed mindset. Perbedaan keduanya dapat terlihat dalam cara seseorang maupun lembaga merespons tantangan.
| Fixed Mindset | Growth Mindset |
| “Saya memang tidak bisa.” | “Saya belum bisa.” |
| “Dari dulu juga seperti ini.” | “Apakah ada cara yang lebih baik?” |
| “Program ini gagal.” | “Apa yang bisa kita pelajari dari hasilnya?” |
| “Anak-anak sekarang memang sulit.” | “Bagaimana strategi kita menghadapi karakter mereka?” |
| “Teknologi membuat pekerjaan semakin rumit.” | “Bagaimana teknologi dapat membantu pekerjaan?” |
| “Kritik berarti menyalahkan.” | “Kritik dapat menjadi bahan perbaikan.” |
| “Dia memang guru yang hebat.” | “Apa yang bisa kita pelajari darinya?” |
| “Saya sudah bertahun-tahun bekerja, tidak perlu belajar lagi.” | “Pengalaman saya penting, tetapi saya tetap perlu belajar.” |
| “Perubahan menambah pekerjaan.” | “Perubahan dapat membuat pekerjaan lebih efektif.” |
| “Kalau gagal, kita akan malu.” | “Kalau gagal, kita evaluasi dan mencoba lagi.” |
Perbedaannya bukan pada tingkat kecerdasan, tetapi ada pada cara memandang kemampuan, kesalahan, tantangan, dan perubahan.
Mengapa Growth Mindset Penting bagi Madrasah?
Madrasah adalah organisasi pembelajar. Jika peserta didik diminta terus belajar, maka pendidik juga harus terus belajar.Jika siswa diminta menerima perubahan, maka lembaga juga harus siap berubah.Jika guru diminta melakukan refleksi pembelajaran, maka lembaga juga harus melakukan refleksi terhadap cara mengelolanya. Akan sangat sulit membangun peserta didik yang memiliki pola pikir berkembang apabila lingkungan pendidikannya justru memiliki pola pikir yang kaku dan tetap.
Bagaimana Membudayakan Growth Mindset di Madrasah?
- Mulai dari Kepala Madrasah
Budaya lembaga hampir selalu memiliki hubungan dengan cara pemimpinnya berpikir. Kepala madrasah yang growth mindset tidak merasa harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ia mampu mengatakan: “Saya belum tahu. Mari kita pelajari bersama.” Kalimat tersebut bukan menunjukkan kelemahan.Justru menunjukkan keteladanan belajar. Pimpinan juga harus berani menerima kritik. Jika guru menyampaikan masalah, jangan langsung dianggap sebagai bentuk perlawanan. Tanyakan:“Apa yang dapat kita perbaiki?” Ketika pimpinan memberikan ruang untuk belajar dan memperbaiki diri, warga madrasah akan lebih berani berkembang.
- Ubah Budaya “Mencari Kesalahan” Menjadi “Mencari Solusi”
Dalam organisasi, sering kali ketika terjadi masalah pertanyaan pertama adalah: “Siapa yang salah?”
Pertanyaan tersebut tidak selalu salah. Tanggung jawab tetap harus jelas. Namun, jika setiap masalah selalu berakhir pada pencarian orang yang harus disalahkan, pegawai akan takut mengambil inisiatif.
Budaya growth mindset menggeser pertanyaan: “Siapa yang salah?” menjadi: “Apa yang terjadi?” kemudian: “Mengapa terjadi?” dan: “Apa yang dapat kita perbaiki?”
Dengan demikian, evaluasi menjadi sarana belajar, bukan ruang untuk mempermalukan.
- Jadikan Kesalahan sebagai Bahan Pembelajaran
Kesalahan tidak boleh dirayakan. Tetapi kesalahan juga tidak harus ditakuti secara berlebihan. Jika seorang guru mencoba metode baru dan hasilnya belum sesuai harapan, jangan langsung mengatakan: “Tuh, kan. Saya sudah bilang tidak akan berhasil.”
Kalimat tersebut akan membunuh keberanian mencoba. Lebih baik: “Bagian mana yang belum berhasil? Apa yang perlu kita ubah?” Inilah budaya belajar. Madrasah perlu menciptakan ruang aman untuk mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki.
- Bangun Budaya Berbagi Praktik Baik
Jika seorang guru memiliki metode pembelajaran yang berhasil, jangan berhenti pada kelasnya sendiri. Namun dapat berbagi kepada guru lain. Jika seorang tenaga kependidikan menemukan cara mempercepat pelayanan, bagikan. Jika sebuah tim menemukan sistem administrasi yang lebih efektif, dokumentasikan. Dengan demikian, keberhasilan seseorang menjadi aset lembaga.
- Berikan Apresiasi terhadap Proses, Bukan Hanya Hasil
Dalam budaya growth mindset, usaha, proses belajar, keberanian mencoba, dan perbaikan perlu dihargai. Fokusnya bukan hanya pada kemampuan yang sudah dimiliki, tetapi pada proses perkembangan.
- Bangun Kebiasaan Refleksi
Madrasah perlu membiasakan pertanyaan sederhana setelah sebuah kegiatan: Apa yang berhasil? Apa yang belum berhasil? Mengapa? Apa yang harus dipertahankan? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang akan kita lakukan berbeda pada kegiatan berikutnya?
Refleksi membuat organisasi belajar dari pengalaman. Tanpa refleksi, pengalaman hanya menjadi kejadian. Dengan refleksi, pengalaman berubah menjadi pembelajaran.
- 7. Jangan Takut Mencoba Hal Baru
Madrasah tidak harus mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dengan eksperimen kecil. Misalnya:
- satu metode pembelajaran baru;
- satu inovasi pelayanan;
- satu sistem administrasi digital;
- satu program penguatan karakter;
- satu model komunikasi dengan orang tua;
- satu strategi peningkatan literasi;
- satu cara baru melakukan evaluasi.
Kemudian ukur hasilnya. Jika berhasil, kembangkan. Jika belum berhasil, perbaiki. Jika tidak efektif, hentikan dengan alasan yang jelas. Itulah pola pikir berkembang. Mencoba → mengukur → mengevaluasi → memperbaiki → mencoba kembali.
- Jadikan Kritik sebagai Vitamin Organisasi
Madrasah yang tidak pernah mendapatkan kritik belum tentu madrasah yang sempurna. Bisa jadi kritik tidak pernah diberi ruang. Guru perlu memiliki kesempatan menyampaikan gagasan. Tenaga kependidikan dapat menyampaikan hambatan. Siswa dapat memberikan umpan balik yang sesuai. Orang tua dapat menyampaikan masukan. Pimpinan harus mampu membedakan antara: kritik terhadap pekerjaan Dan serangan terhadap pribadi. Tidak semua kritik harus diterima. Tetapi hampir setiap kritik dapat menjadi bahan untuk berpikir.
- Bangun Kolaborasi, Bukan Kompetisi Internal
Budaya fixed mindset mudah melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Ketika seorang guru berhasil, muncul pertanyaan: “Mengapa dia yang dipuji?” Dalam growth mindset, keberhasilan orang lain justru menjadi sumber belajar: “Apa yang dapat kita pelajari dari keberhasilannya?” Dengan demikian, prestasi seseorang tidak mengurangi prestasi orang lain. Justru dapat mengangkat kualitas seluruh lembaga. Guru hebat bukan ancaman bagi guru lain. Guru hebat adalah sumber pembelajaran bagi komunitasnya.
- Kembangkan Kompetensi Secara Berkelanjutan
Madrasah harus menjadi organisasi yang terus belajar. Pelatihan tidak boleh sekadar memenuhi sertifikat. Workshop tidak boleh berhenti pada foto kegiatan. Seminar tidak boleh selesai ketika sertifikat diterima. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang berubah setelah kita belajar?”
Setiap kegiatan pengembangan kompetensi seharusnya menghasilkan perubahan dalam praktik. Jika guru belajar tentang pembelajaran berdiferensiasi, misalnya, harus ada perubahan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Jika belajar teknologi, harus ada teknologi yang benar-benar digunakan. Jika belajar manajemen, harus ada perbaikan pengelolaan. Belajar → mencoba → menerapkan → mengevaluasi.
Dari Growth Mindset Individu Menuju Growth Culture Madrasah
Inilah tantangan terbesar. Satu orang dapat memiliki growth mindset. Tetapi jika lingkungan organisasinya fixed mindset, orang tersebut dapat kelelahan. Lama-kelamaan keberanian berinovasi dapat hilang. Karena itu, madrasah harus menciptakan sistem yang mendukung pola pikir berkembang. Bukan hanya meminta individu untuk berkembang. Organisasinya juga harus memberi ruang untuk berkembang.
Madrasah Harus Terus Tumbuh
Madrasah yang hebat bukan madrasah yang merasa dirinya sudah sempurna. Madrasah yang hebat adalah madrasah yang menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang dapat diperbaiki. Pembelajaran dapat diperbaiki. Pelayanan dapat diperbaiki.
Administrasi dapat diperbaiki. Komunikasi dapat diperbaiki. Kepemimpinan dapat diperbaiki. Budaya kerja dapat diperbaiki. Dan diri kita sendiri juga dapat terus berkembang. Karena itu, mari mengubah beberapa kalimat yang selama ini mungkin terlalu sering kita gunakan.
Dari:“Saya tidak bisa.” menjadi: “Saya belum bisa.” Perubahan kata mungkin terlihat sederhana.Tetapi perubahan kata dapat mencerminkan perubahan cara berpikir. Dan perubahan cara berpikir akan memengaruhi perilaku. Perilaku yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan bersama akan membentuk budaya.
Pada akhirnya: Mindset → Sikap → Perilaku → Kebiasaan → Budaya → Kinerja.
Itulah growth mindset. Itulah semangat organisasi pembelajar. Dan itulah budaya yang perlu dibangun di madrasah. Bukan sekadar menjadi madrasah yang bertahan, tetapi madrasah yang terus tumbuh, belajar, beradaptasi, dan berkembang bersama.
