Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga

Membaca Makna Relasi dan Pernikahan di Media Sosial: Dari FYP hingga Resiliensi Keluarga

Edisi 78, oleh Izzuthoriqulhaq, S.Ag. (CPNS Penghulu KUA Purbalingga)

Jika kita melihat FYP TikTok atau Instagram akhir-akhir ini, konten bertema pernikahan muncul dengan intensitas yang cukup tinggi mulai dari prosesi akad nikah, romantisme bersama pasangan, hingga momen khidmat ijab qobul. Tidak kalah pula konten kreatif dari KUA seperti meme tentang generasi kelahiran 90-an sampai 2000-an menjelang tahun 2026 seolah “sedang dikejar oleh penghulu” mendapat atensi yang cukup tinggi. Diantara salah satunya tercatat menembus lebih dari 4,7 juta views.

Bisa kita temui di kolom komentar, muncul satu kalimat yang berulang dan kini cukup populer: “Ini marketing KUA ya?” Sebuah candaan yang terdengar ringan, tetapi menyimpan makna sosial yang tidak sederhana. Ungkapan ini tidak benar-benar menuduh adanya promosi institusional, melainkan cara warganet menikmati romantisme relasi dan pernikahan sambil tetap menahan diri agar tidak serta-merta menjadikannya dorongan untuk terlibat di dalamnya.

Nomenklatur Media Sosial dan Pergeseran Cara Memahami Relasi

Jika kita lihat dengan kacamata refleksivitas dalam masyarakat modern, humor “marketing KUA” dapat dibaca sebagai ekspresi ambivalensi warganet dalam memaknai pernikahan. Representasi pernikahan di media sosial hari ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari narasi emosional hingga konten satir dan kreatif yang semuanya ikut membentuk cara generasi muda dalam memahami institusi pernikahan. Di satu sisi, pernikahan tetap diposisikan sebagai fase hidup yang penting dan bernilai. Namun di sisi lain, terdapat kesadaran untuk tidak sepenuhnya melebur ke dalam gambaran pernikahan yang tampil ideal, tertata, dan seolah bebas dari konflik.

Cara pandang semacam ini sejalan dengan apa yang dijelaskan Anthony Giddens dalam The Transformation of Intimacy. Giddens menyebut bahwa relasi modern termasuk pernikahan tidak lagi bertumpu pada kewajiban sosial semata, melainkan pada refleksi, negosiasi, dan pencarian makna personal. Pernikahan tidak lagi diterima begitu saja sebagai kelanjutan tradisi, tetapi dipikirkan, ditimbang, dan dinegosiasikan ulang. Dalam konteks ini, menikah menjadi keputusan reflektif, bukan sekadar mengikuti alur sosial.

Bahasa yang digunakan generasi saat ini memperlihatkan bagaimana proses refleksi itu bekerja. Beberapa Istilah seperti red flag, green flag, toxic relationship, emotionally unavailable, frugal living, intimate wedding, hingga standar TikTok membentuk nomenklatur baru dalam menilai relasi dan bagaimana memilih pasangan. Istilah-istilah ini nampaknya membantu meningkatkan kesadaran akan relasi yang sehat, tetapi di sisi lain implikasinya cenderung mereduksi kompleksitas relasi melalui penilaian yang bersifat instan dan simplifikatif. Manusia dinilai seperti potongan konten: singkat, jelas, dan mudah diberi label.

Pada titik ini, media sosial menurut penulis tidak lagi sekadar ruang berbagi pengalaman, tetapi telah menjadi lensa utama dalam memandang pernikahan. Proses mengenal pasangan yang sebelumnya terjadi secara bertahap dan dialogis, kini perlahan digantikan oleh standar penilaian yang instan, berbasis pada tren, dan algoritma.

Resiliensi Keluarga di Tengah Gempuran FYP Media Sosial

Dalam lanskap inilah narasi seperti marriage is scary menemukan tempatnya. Kalimat tersebut tidak lagi sekadar tren sesaat, melainkan refleksi kolektif dari paparan panjang terhadap cerita konflik rumah tangga, perceraian, dan kelelahan emosional yang beredar di media sosial. Pernikahan, yang sebelumnya dibayangkan sebagai fase hidup yang diharapkan, menjadi kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang penuh risiko.

Masalahnya, rumah tangga tidak pernah hidup dalam durasi 30 detik. Ia berjalan dalam waktu yang panjang, penuh pengulangan, kompromi, air mata, gelak tawa, dan berbagai problematika. Ketika standar relasi dibentuk oleh cuplikan FYP, muncul ketegangan baru: ekspektasi yang tinggi, sikap toleransi yang rendah pada pasangan, dan kesulitan bertahan ketika realitas tidak seindah yang dibayangkan.Di sinilah konsep resiliensi keluarga menjadi krusial.

Dalam kajian psikologi keluarga, resiliensi dipahami sebagai kemampuan pasangan untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit di tengah tekanan. Paparan media sosial yang terus-menerus dapat melemahkan resiliensi ketika pasangan membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan standar luar yang tidak realistis. Konflik kecil terasa seperti kegagalan besar.

Narasi standar TikTok memperkuat ilusi ini. Rumah tangga digambarkan harmonis tanpa konflik, mapan sejak awal, dan selalu komunikatif. Padahal, algoritma media sosial tidak dirancang untuk menampilkan bagimana proses itu bisa bertahan. Yang jarang atau bahkan tidak pernah masuk FYP adalah bagimana upaya berdamai setelah terjadi pertengkaran, bagaimana belajar mengelola keuangan keluarga, atau menata ulang ekspektasi hidup bersama.

Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi ruang pembelajaran resiliensi jika dimaknai secara proporsional. Konten tentang bagimana komunikasi yang sehat, pengelolaan emosi diri, dan kesetaraan peran dalam keluarga cukup banyak beredar. Namun semua akan bermakna ketika tidak diberlakukan sebagai standar yang mutlak, melainkan sebagai bekal untuk menghadapi realitas.

Sepertihalnya adanya tren frugal living atau intimate wedding menunjukkan adanya upaya generasi sekarang membangun ketahanan dari awal. Hidup hemat dan sadar akan risiko dapat memperkuat resiliensi karena mendorong pengelolaan finansial yang realistis. Namun jika dimaknai secara kaku, tren-tren tersebut justru dapat memperburuk ketakutan dan menunda keberanian untuk menjalin ikatan yang lebih tinggi yaitu pernikahan.

Belum lama fenomena viralnya tepuk sakinah juga dapat dibaca sebagai keberhasilan menghadirkan institusi pernikahan ke dalam ruang percakapan warganet. Di tengah dominasi narasi tentang risiko, ketakutan, dan kegagalan rumah tangga, konten semacam ini berfungsi sebagai kontra-naratif yang tidak datang dalam bentuk ceramah atau slogan normatif. Viralitasnya menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada rendahnya minat terhadap pernikahan, melainkan pada cara pernikahan dikomunikasikan. Ketika bahasa dan bentuknya selaras dengan kultur media sosial, institusi yang selama ini dianggap formal dan berjarak justru bisa diterima, dibicarakan, dan dimaknai ulang.

Konten-konten pernikahan yang disebut “marketing KUA” pada akhirnya berfungsi sebagai penyeimbang. Ia tidak menutupi realitas, tetapi menghadirkan gambaran bahwa pernikahan juga bisa dijalani dengan tenang, sederhana, dan harmonis. Di tengah gempuran FYP yang tidak sedikit sering memproduksi kecemasan, representasi semacam ini membantu menjaga harapan tetap ada.

Di era media sosial, pernikahan memang terus ditonton dan ditafsirkan. Namun resiliensi keluarga dibangun jauh dari kamera dan algoritma. Ia tumbuh dari komitmen bersama sehari-hari, dari kemampuan bertahan ketika tidak ada yang memberi like dan komentar, yang justru di sanalah makna pernikahan menemukan bentuknya yang paling nyata.

Post Relate

Translate »
Skip to content