Madrasah Harus Tanamkan Patriotisme

Purbalingga – Madrasah harus berorientasi kepada 5 hal, yaitu keindonesiaan, keislaman, keilmuan, kemandirian, dan keumatan. Hal tersebut dikemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga Karsono kepada para guru peserta Workshop Karya Tulis Ilmiah (KTI) di MTs Negeri 2 Purbalingga, Selasa (29/9/2020).

Karsono menjelaskan, dengan kondisi Indonesia yang multikultural dengan beraneka ragam budaya, bahasa, suku, adat istiadat serta ratusan ribu pulau dibutuhkan penanaman rasa cinta Tanah Air kepada para peserta didik di madrasah.

“Kondisi Tanah Air kita yang luar biasa ini menjadi lebih luar biasa lagi karena bisa bersatu, rukun dan damai dengan satu ikatan ideologi Pancasila yang telah menjadi kesepakatan para founding fathers kita, para pejuang, para ulama dan perintis kemerdekaan negara kita,” ungkapnya.

Ia berharap madrasah dapat melahirkan anak-anak yang patriotik, yang memiliki jiwa patriotisme – rasa cinta tanah air yang tinggi sebagaimana para pahlawan yang merelakan jiwa raganya dalam berjuang mewujudkan kemerdekaan negaranya dari para penjajah.

“Seperti halnya Pahlawan kita dari Purbalingga Panglima Besar Jenderal Soedirman yang rela berjuang, berperang, bergerilya di hutan melawan Belanda meski kondisinya sakit sekalipun,” ungkapnya.

Karsono juga berharap tidak hanya mendidik anak-anak untuk berjiwa patriot, para guru pun harus memiliki jiwa patriot yang tinggi.

“Sebagai seorang guru apalagi ASN jangan sampai berbicara nyinyir di media sosial. Jangan sampai seorang Aparatur Sipil Negara membenci pemerintahan, negara dan bangsanya sendiri,” tegasnya.

Wajah Islam

Karsono meminta madrasah dapat menampilkan wajah Islam yang sebenarnya di masyarakat yaitu Islam yang rahmatan lil’alamin.

“Jika umat Islam bisa bekerja sama dengan pihak luar, maka kerja sama antar sesama umat Islam tentunya lebih baik,” ungkapnya.

Selain itu guru sebagai salah satu sumber belajar juga harus menampilkan wajah keilmuan.

“Guru-guru madrasah harus mencintai ilmu dengan terus belajar baik secara formal maupun non formal. Guru perlu imajinasi, maka miliki perpustakaan pribadi. Karena dengan membaca berbagai buku sejarah kita akan memiliki nasionalisme yang utuh,” pesannya. (sar)

Bagikan :
Translate »