Di tengah gempuran era digital, guru menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Anak didik tidak hanya belajar dari buku dan guru di ruang kelas, tetapi juga dari media sosial, video, influencer, dan berbagai informasi yang hadir setiap saat melalui gawai. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai pengetahuan. Guru dituntut menjadi pendidik yang mampu memberikan arah, membangun karakter, dan menjadi teladan dalam perilaku.
Hal yang sering dilupakan adalah bahwa perilaku guru merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Apa yang dilakukan guru dapat menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat daripada apa yang dikatakannya. Cara guru berbicara, memperlakukan anak didik, menghadapi masalah, menggunakan media sosial, menepati janji, bahkan mengakui kesalahan, semuanya dapat diamati dan direkam dalam ingatan peserta didik.

Guru yang berbicara tentang kedisiplinan, tetapi sering datang terlambat, secara tidak langsung sedang memberikan pesan yang bertentangan dengan nasihatnya. Guru yang mengajarkan kejujuran, tetapi tidak adil dalam memberikan penilaian, dapat membuat anak didik mempertanyakan makna kejujuran itu sendiri. Sebaliknya, guru yang mampu mengakui kesalahan, meminta maaf, bersikap adil, dan menghargai setiap peserta didik sedang memberikan pendidikan moral melalui keteladanan.
Di sinilah adab dan moralitas guru memiliki kaitan erat dengan kewibawaannya sebagai pendidik. Wibawa guru bukan semata-mata lahir dari jabatan, usia, atau kemampuan menguasai materi pelajaran. Wibawa tumbuh dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Guru yang memiliki integritas akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dan penghormatan dari anak didik. Sebaliknya, perilaku yang tidak mencerminkan nilai yang diajarkan dapat mengikis kepercayaan tersebut.
Dampaknya bagi anak didik juga tidak sederhana. Anak belajar melalui proses meniru dan mengamati lingkungan di sekitarnya. Mereka dapat menyerap cara guru berkomunikasi, menyelesaikan konflik, menghargai orang lain, dan mengambil keputusan. Karena itu, perilaku guru dapat menjadi contoh yang membentuk kebiasaan dan karakter peserta didik, baik secara positif maupun negatif.
Dalam era digital, persoalan tersebut menjadi semakin penting. Seorang guru tidak hanya menjadi figur yang dilihat di sekolah, tetapi juga dapat hadir di ruang digital. Unggahan, komentar, dan cara guru berkomunikasi di media sosial dapat menjadi bagian dari citra keteladanan yang dilihat peserta didik. Guru perlu menyadari bahwa kebebasan berekspresi tetap harus berjalan bersama tanggung jawab dan etika.
Namun, menuntut guru untuk selalu sempurna juga bukanlah tujuan pendidikan. Guru adalah manusia yang dapat melakukan kesalahan. Justru kemampuan untuk mengakui kesalahan, melakukan refleksi, dan memperbaiki diri merupakan bentuk keteladanan yang sangat berharga. Anak didik perlu melihat bahwa menjadi pribadi yang baik bukan berarti tidak pernah salah, melainkan memiliki keberanian untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
Pada akhirnya, tugas guru bukan hanya membuat anak didik menjadi tahu, tetapi juga membantu mereka menjadi manusia yang baik. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, bahkan dari teknologi yang semakin canggih. Namun, nilai tentang kejujuran, tanggung jawab, penghormatan, empati, dan adab membutuhkan pengalaman nyata dan keteladanan.
Karena itu, sebelum bertanya apakah anak didik sudah memiliki moral yang baik, seorang guru patut bertanya kepada dirinya sendiri: “Nilai apa yang sedang saya contohkan melalui perilaku saya?”
Sebab guru bukan hanya mengajar dengan apa yang diucapkan. Guru juga mendidik melalui apa yang dilakukan. Dan sering kali, perilaku gurulah yang paling lama tinggal dalam ingatan anak didiknya.
Oleh: Siti Khasiroh, M.Pd
