Purbalingga (Humas) – Siang itu, Kamis (19/3/2026) langkah seorang pemudik, sebut saja Abdul, tampak sedikit tertatih. Perjalanan jauh dari Jakarta menuju Banjarnegara yang ditempuh dengan sepeda motor bersama anaknya mulai terasa di tubuhnya. Lelah, letih, dan fokus yang mulai menurun, membuatnya sempat kehilangan keseimbangan saat berada di area kamar mandi Masjid Muhammad Cheng Hoo, Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet.
Bukan luka yang parah, namun cukup membuatnya terdiam sejenak, menahan nyeri.
Di saat itulah, kehangatan Masjid Ramah Pemudik (MRP) benar-benar terasa.
Ngato Urrokhman, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mrebet yang tengah bertugas, sigap menghampiri. Dengan penuh empati, ia membantu pemudik tersebut duduk lebih nyaman, lalu memberikan pijatan ringan untuk meredakan rasa nyeri yang muncul akibat kelelahan perjalanan.

Tak ada kesan tergesa. Yang ada justru ketenangan—seolah masjid itu bukan sekadar tempat singgah, tetapi juga tempat memulihkan tenaga dan rasa.
“Kami hanya berusaha membantu semampunya. Pemudik itu tamu, bahkan saudara bagi kami. Sudah seharusnya dilayani dengan sebaik-baiknya,” tutur Ngato dengan rendah hati.
Abdul ternyata bukan orang baru di tempat itu. Setiap musim mudik, ia selalu menyempatkan diri berhenti di Masjid Cheng Hoo bersama anaknya. Baginya, masjid ini sudah seperti titik rehat yang memberi rasa aman.
“Saya memang rutin mampir di sini tiap mudik. Tempatnya nyaman, bersih, dan pelayanannya ramah sekali. Tadi sempat kurang seimbang karena badan capek, alhamdulillah langsung dibantu. Saya sangat terbantu, terima kasih banyak,” ungkapnya dengan wajah yang mulai kembali tenang.
Di sudut masjid, aktivitas pemudik lain tetap berjalan—ada yang beristirahat, ada yang sekadar merebahkan badan, ada pula yang mengisi ulang tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang.
Namun, dari satu kejadian sederhana itu, terselip makna yang lebih dalam.
Bahwa di tengah padatnya arus mudik, di antara lelah dan jarak yang panjang, selalu ada ruang-ruang kecil yang menghadirkan kepedulian. Masjid Ramah Pemudik menjadi salah satunya—tempat di mana bantuan datang tanpa diminta, dan kehangatan hadir tanpa syarat.
Di perjalanan yang melelahkan, terkadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar tempat singgah, tetapi rasa bahwa kita tidak sendirian.
Editor : Sri Lestari
Foto : Dok MRP Masjid Cheng Hoo