Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN PURBALINGGA

Jalan Mayor Jendral D.I Panjaitan No. 115A Purbalingga 53311
https://purbalingga.kemenag.go.id

Catatan Sunyi yang Menyentuh: Kisah Pemudik Tunarungu Singgah di Masjid Ramah Pemudik Purbalingga

Purbalingga (Humas) – Perjalanan mudik tak selalu mudah, tetapi bagi sebagian orang, ia menjadi kisah yang penuh makna dan menyentuh hati. Itulah yang tergambar dari perjalanan sebuah keluarga kecil yang singgah di Masjid Ramah Pemudik (MRP) di Purbalingga.

Pada Senin, 23 Maret 2026, seorang ayah, ibu, dan anak perempuan berusia sekitar lima tahun melakukan perjalanan mudik dari Kebumen menuju Pemalang dengan sepeda motor. Di tengah perjalanan panjang itu, mereka beristirahat di Masjid Ramah Pemudik Kemenag Purbalingga, tepatnya di Masjid Besar Nurul Falah Bukateja.

Kisah keluarga ini menjadi istimewa karena sang ayah dan ibu merupakan penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara. Meski memiliki keterbatasan, semangatnya untuk menafkahi keluarga tak pernah surut. Dalam sebuah catatan sederhana yang ia tulis saat beristirahat, terselip pesan yang begitu tulus:

“Saya tunarungu, mohon maaf lahir dan batin. Terima kasih jajanannya,” tulisnya dalam selembar kertas.

Kalimat singkat itu menjadi jembatan komunikasi yang sarat makna tentang rasa syukur, kerendahan hati, dan kehangatan yang ia rasakan selama singgah. Ia juga menuliskan bahwa dirinya bekerja sebagai tukang jahit di Semarang demi menghidupi keluarganya.

Catatan sunyi pemudik tunarungu di MRP Masjid Nurul Falah Bukateja
Catatan sunyi pemudik tunarungu di MRP Masjid Nurul Falah Bukateja

Baca Juga: Di Balik Lelah Pemudik, Ada Kepedulian Penyuluh Agama Islam di Masjid Ramah Pemudik

Di tengah hiruk-pikuk arus mudik, keberadaan Masjid Ramah Pemudik tak sekadar menjadi tempat singgah, tetapi juga ruang kemanusiaan yang menghadirkan kenyamanan bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Bagi keluarga kecil ini, tempat tersebut menjadi oase yang bukan hanya untuk melepas lelah, tetapi juga merasakan kepedulian yang nyata.

Setelah beristirahat, keluarga tersebut kembali melanjutkan perjalanan menuju Pemalang dengan sepeda motor, membawa bekal energi baru dan kenangan hangat dari persinggahan singkat mereka.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan mudik, selalu ada cerita perjuangan, cinta keluarga, dan harapan yang terus menyala bahkan dalam keterbatasan sekalipun.

Kontributor/ Publisher : Ahyan
Sumber : Petugas Posko Masjid Besar Nurul Falah, Bukateja

Post Relate

Translate »
Skip to content