Edisi 86. oleh : Didik Wirawan, S.Pd.I., M. Ap. (Kasi Pendidikan Agama Islam)
Di era yang serba canggih dengan teknologi digital ini, Generasi muda, termasuk para pelajar, semakin terbiasa dengan informasi cepat dan singkat, tetapi kehilangan kebiasaan membaca dan merenung secara mendalam. Hal ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, terutama dalam Pendidikan Agama Islam yang menuntut pemahaman reflektif terhadap nilai-nilai kehidupan. Fenomena ini di sebut dengan Brain Rot merupakan istilah yang menggambarkan kemunduran kognitif akibat konsumsi berlebihan konten digital yang dangkal dan instan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan menurunnya kemampuan berpikir kritis, kesulitan fokus, dan kecenderungan mencari informasi secara instan tanpa pemahaman mendalam. Generasi muda yang terbiasa dengan media sosial, video pendek, dan hiburan serba cepat cenderung mengalami perubahan pola pikir yang lebih reaktif daripada reflektif.

Dalam dunia pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam, Brain Rot menjadi tantangan karena pemahaman keagamaan menuntut proses tafakur (merenung) dan tadabbur (pemahaman mendalam). Jika kebiasaan berpikir dangkal terus berkembang, dikhawatirkan generasi muda akan kesulitan memahami ajaran agama secara holistik dan hanya menerima informasi secara parsial.
Beberapa Tantangan bagi Pendidikan Agama Islam, terkait fenomena Brain Rot
- Penurunan Kualitas Kognitif & Spiritual: Paparan konten unfaedah (tidak bermanfaat) dan hoax melemahkan kemampuan berpikir logis dan memperdalam pemahaman agama.
- Etika Digital Rendah: Penyebaran informasi tanpa filter dan menurunnya interaksi sosial sehat karena kecanduan gawai.
- Kesenjangan Digital & Literasi: Guru dan siswa memiliki tingkat literasi digital yang berbeda, serta tantangan infrastruktur.
- Relevansi Konten: Pendidikan Agama Islam kesulitan bersaing dengan hiburan digital, membuat nilai-nilai Islam terasa kurang menarik
Fenomena Brain Rot tidak sepenuhnya sebagai ancaman serius. Beberapa ahli berpendapat fenomena Brain Rot hanyalah dampak alami dari perubahan cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Dengan strategi pembelajaran yang tepat, seperti mendorong literasi kritis dan memanfaatkan teknologi secara bijak, dampak negatif Brain Rot bisa diminimalkan tanpa harus menolak perkembangan digital sepenuhnya. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana mengadaptasi metode pembelajaran agar tetap relevan dengan dunia digital yang serba cepat. Pendidikan Agama Islam perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai keislaman tetapi juga melatih daya pikir yang mendalam.
Solusi dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam menangani Fenomena Brain Rot
- Penguatan Literasi Digital & Kritis:
- Ajarkan cara memfilter konten dan berpikir analitis terhadap informasi digital.
- Gunakan pendekatan tafsir tarbawy (tafsir edukatif) untuk memahami Al-Qur’an secara mendalam (tadabbur) dan merenung (tafakur)
- Pembinaan Karakter & Spiritual Holistik
- Integrasikan nilai-nilai Islam (seperti pengelolaan waktu dari hadis tentang nikmat waktu luang) untuk membangun keseimbangan.
- Latih akhlak mulia dan adab digital sebagai benteng moral.
- Strategi Pembelajaran Adaptif:
- Pemanfaatan Teknologi: Gunakan media digital untuk pengalaman belajar interaktif, ciptakan konten edukatif yang menarik.
- Pelatihan Guru: Tingkatkan kompetensi guru sebagai fasilitator dan teladan di era digital.
- Kegiatan Offline: Dorong aktivitas fisik, seni, dan sosial untuk alternatif produktif (misal: olahraga, permainan edukatif).
- Pendekatan Komprehensif:
- Edukasi Digital (Digital Wellness): Ajarkan detoksifikasi digital (digital detox) dan manajemen waktu gawai.
- Pengembangan Hobi Positif: Kenalkan hobi yang menstimulasi kreativitas dan fisik.
- Keterlibatan Orang Tua & Lingkungan: Libatkan orang tua dalam membatasi waktu layar dan mendukung aktivitas offline.Â
Fenomena Brain Rot di era teknologi atau era digital ini sesungguhnya bukanlah ancaman yang tidak dapat diatasi. Pendidikan Agama Islam memiliki potensi besar dalam menangkal dampaknya melalui tradisi tafakur dan tadabbur, yang mendorong pemahaman mendalam terhadap ajaran agama. Dengan menanamkan budaya literasi, berpikir kritis, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, generasi muda dapat diarahkan menjadi individu yang tidak hanya memiliki wawasan luas, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang adaptif agar nilai-nilai Islam tetap relevan dalam menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan esensi keilmuan yang mendalam