Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga

Mengukir Senyum dalam Pelayanan (Kisah Inspiratif Kemenag Purbalingga)

Pagi yang cerah di Kabupaten Purbalingga. Suasana kantor pelayanan mulai ramai oleh masyarakat yang datang dengan berbagai urusan. Di halaman depan, seorang laki-laki paruh baya dengan keterbatasan fisik tampak ragu turun dari mobilnya. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian, seolah ada beban yang menahan langkahnya. Ia datang untuk mengurus dokumen penting, namun wajahnya menyiratkan kegelisahan—takut merepotkan, khawatir tak terlayani.

Namun kegundahannya tak berlangsung lama. Seorang petugas keamanan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Purbalingga segera menghampiri dengan senyum ramah. Tanpa diminta, ia menawarkan bantuan, menghadirkan kursi roda, dan dengan penuh hormat mengarahkan sang bapak menuju jalur khusus difabel. Di sana petugas Front Office telah menunggu di loket prioritas, menyambut dengan sapaan hangat dan pelayanan tulus.

Sekejap kegelisahan yang semula membayang di wajah sang bapak berganti dengan senyum lega. Ia merasa dihargai, diperlakukan dengan hormat, dan yang terpenting—diberikan kemudahan tanpa harus merasa berbeda. Senyum itu bukan hanya miliknya, melainkan juga milik petugas yang telah berhasil menanamkan rasa nyaman dalam sebuah pelayanan.

Kisah sederhana ini bukanlah cerita rekaan. Ia adalah potret nyata dari komitmen Kemenag Purbalingga dalam menghadirkan pelayanan prima yang inklusif dan ramah bagi kelompok rentan. Karena bagi mereka, pelayanan publik tidak hanya soal administrasi yang selesai, tetapi tentang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan bermartabat.

Dari kesadaran bahwa setiap warga berhak merasakan pelayanan yang adil dan nyaman, lahirlah sebuah terobosan dari Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. Inovasi ini diberi nama CEKATAN (Cepat Kepada Kelompok Rentan), sebuah wujud nyata kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang sering kali menghadapi tantangan dalam mengakses layanan publik.

CEKATAN bukan sekadar program, melainkan napas baru dalam pelayanan publik. Ia dirancang dengan semangat untuk menghadirkan pelayanan yang lebih ramah, inklusif, dan memanusiakan manusia.”

Layanan Cekatan
Pelayanan ramah kelompok rentan

Ada empat pilar utama fondasi CEKATAN:

Pertama, sarana dan prasarana ramah kelompok rentan. Kantor Kemenag Purbalingga tidak hanya memperhatikan estetika gedung, tetapi juga memastikan aksesibilitas bagi semua. Jalur landai (ram), toilet difabel, hingga kursi roda tersedia untuk memudahkan penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, maupun anak-anak. Dengan ini, setiap orang dapat bergerak dengan aman dan percaya diri tanpa merasa terhalangi.

Kedua, waktu adalah aset berharga, apalagi bagi mereka yang memiliki keterbatasan. Karena itu, Kemenag Purbalingga juga menyediakan loket prioritas agar kelompok rentan tidak perlu mengantri lama. Mereka langsung dilayani dengan sigap dan ramah, sehingga urusan administrasi bisa selesai lebih cepat tanpa menjadi beban.

Ketiga, Kemenag Purbalingga sangat memahami bahwa tidak semua orang mampu datang langsung ke kantor. Menjawab kebutuhan itu, Kemenag Purbalingga menghadirkan layanan jemput bola, petugas siap hadir di rumah atau lokasi yang disepakati. Dengan demikian, jarak, usia lanjut, atau keterbatasan fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan hak-haknya.

Keempat, inovasi tidak hanya berhenti pada sarana atau sistem, tetapi juga pada manusia yang menjalankannya. Karena itu, para petugas pelayanan secara rutin dibekali dengan pelatihan yang menekankan empati, keramahan, dan keterampilan melayani kelompok rentan. Mereka tidak hanya dituntut sigap, tetapi juga mampu menghadirkan sentuhan hati dalam setiap layanan.

Melalui keempat pilar inilah CEKATAN hadir bukan sekadar nama tetapi sebagai simbol kepedulian. Sebuah upaya agar setiap warga, tanpa terkecuali, merasakan pelayanan yang setara, nyaman, dan penuh martabat.

Kolaborasi yang Membawa Apresiasi

Kesungguhan Kemenag Purbalingga tidak berhenti pada internal saja. Mereka aktif menjalin kolaborasi, antara lain dengan SLB Purbalingga, untuk memahami  mengatasi keterbatasan SDM Petugas layanan disabilitas Dinas Kesehatan, agar layanan kepada ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya lebih tepat sasaran.Bekerjasama juga dengan Yayasan Peduli Difabel (Pilar Purbalingga), guna bersinergi dalam penguatan SDM petugas pelayanan melalui pelatihan pelayanan terhadap penyandang difabel.

Sinergi ini membuahkan hasil manis. Pada 3 Januari 2025, dalam momentum Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama, Kemenag Purbalingga dianugerahi penghargaan Pelayanan Prima Inklusif Ramah Kelompok Rentan oleh Kemenpan RB RI. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, kepada Kepala Kemenag Purbalingga, H. Zahid Khasani.

Melayani dengan Hati, Mengukir Senyum

Bagi Kemenag Purbalingga, penghargaan itu bukanlah garis akhir, melainkan bahan bakar semangat untuk terus berbenah. Mereka percaya, pelayanan publik adalah cermin kepedulian. Setiap senyum yang terukir dari wajah masyarakat adalah bukti keberhasilan yang tak ternilai.

Kisah mereka adalah pelajaran: bahwa pelayanan sejati lahir dari hati, dari keinginan tulus untuk memanusiakan manusia. Bahwa setiap warga, tanpa terkecuali, berhak merasakan kenyamanan, kemudahan, dan martabat dalam mengurus kebutuhannya.

Kemenag Purbalingga telah membuktikan, pelayanan publik bisa lebih dari sekadar birokrasi. Ia bisa menjadi ruang yang mengukir senyum-senyum penuh syukur dari masyarakat, dan senyum penuh bangga dari para pelayan publik yang bekerja dengan sepenuh hati.

Penulis: Wisnu Sudarman (Kasi PAIS Kemenag Purbalingga)

Post Relate

Translate »
Open chat
Hubungi Kami
Kemenag Purbalingga
Hallo 👋
Apakah ada yang bisa saya bantu?
Skip to content