Purbalingga (Humas) – Di tengah padatnya arus mudik yang didominasi kendaraan bermotor, kisah perjalanan Pak Edi Rosidi menghadirkan potret keteguhan yang menyentuh. Pria asal Cilacap itu menempuh perjalanan menuju Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak dagangannya.

Langkah panjang itu membawanya singgah di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Selasa (17/3/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Masjid tersebut menjadi salah satu titik layanan dalam program Masjid Ramah Pemudik yang diinisiasi Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.
Setelah perjalanan yang melelahkan sejak sehari sebelumnya, Pak Edi disambut hangat oleh petugas piket masjid. Tanpa prosedur yang rumit, ia dipersilakan beristirahat, mandi, hingga mengisi daya telepon selulernya.
“Alhamdulillah pelayanannya sangat ramah. Saya dipersilakan mandi, istirahat, bahkan disediakan tempat untuk mengisi daya HP. Semuanya tersedia dan gratis,” ungkap Pak Edi dengan wajah lega.
Program Masjid Ramah Pemudik merupakan upaya Kemenag Purbalingga untuk menghadirkan masjid sebagai tempat singgah yang nyaman bagi para pemudik di sepanjang jalur mudik. Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi antara Kemenag Purbalingga, takmir masjid, serta jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah setempat.
Kepala KUA Kecamatan Bojongsari, Mutohir, menyampaikan bahwa Masjid Daarunnajaa Desa Gembong telah dipersiapkan untuk melayani para pemudik yang melintas di jalur tersebut.

“Masjid Daarunnajaa kami siapkan sebagai bagian dari program Masjid Ramah Pemudik. Bersama takmir dan petugas KUA Bojongsari, kami menyediakan fasilitas seperti tempat istirahat, kamar mandi, air minum, pengisian daya gawai, serta ruang ibadah yang nyaman bagi para pemudik yang singgah,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran program ini diharapkan dapat menghadirkan masjid sebagai ruang pelayanan umat sekaligus tempat bernaung bagi siapa pun yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Setelah beristirahat dan memulihkan tenaga, Pak Edi kembali melanjutkan perjalanan menuju Moga, Pemalang. Gerobak yang ia dorong menjadi saksi keteguhan tekadnya untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga pada Hari Raya Idulfitri.
Bagi Pak Edi, singgah sejenak di Masjid Daarunnajaa bukan sekadar berhenti melepas lelah. Kehangatan pelayanan yang ia terima menjadi bekal semangat untuk menuntaskan perjalanan panjangnya menuju kampung halaman. Sebuah kisah sederhana di jalur mudik yang memperlihatkan bagaimana masjid dapat menjadi oase bagi para pemudik.
Sumber : blogspot KUA Bojongsari
Editor : Sri Lestari
