Purbalingga (Humas) — Sabtu dini hari (24/1/2026) menjadi titik kelam bagi warga RT 05 RW 02 Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Di tengah sunyi dan gelapnya malam, banjir bandang datang tanpa ampun, menghantam permukiman warga dan menghanyutkan rumah keluarga Ibu Nikmatin hingga tak bersisa. Bersamaan dengan itu, sebuah pelita ilmu di Desa Serang turut padam.
Bagi Nur Hidayat, siswa kelas X SMA Negeri 1 Karangreja, peristiwa tersebut menjadi garis tipis antara hidup dan maut. Karena sedang libur sekolah, Nur menginap di rumah temannya. Takdir itulah yang menyelamatkan nyawanya dari terjangan air bah. Namun keselamatan itu harus ditebus dengan kehilangan yang begitu besar.
Kakak tercintanya, Ustadzah Sholehah Kuswati, guru ngaji di TPQ Nurun Nawawi Desa Serang, meninggal dunia setelah terseret derasnya arus banjir bandang. Sosok yang selama ini menjadi sandaran keluarga sekaligus penerang ilmu agama bagi anak-anak desa itu berpulang dalam musibah yang memilukan.

Akibat bencana tersebut, Nur Hidayat kini tidak lagi memiliki rumah di Desa Serang. Lahan tempat tinggal keluarganya yang berada di bantaran sungai telah habis tergerus abrasi dan dinyatakan tidak memungkinkan untuk dibangun kembali. Untuk sementara waktu, Nur—yang telah yatim sejak usia tujuh tahun—menumpang hidup di rumah neneknya di Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet.
Perpindahan ini membawa tantangan baru dalam hidupnya. Jarak sekolah menjadi persoalan serius karena ia harus memikirkan cara tetap melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Karangreja dari wilayah Mrebet. Selain itu, Nur kehilangan hampir seluruh harta benda. Ia hanya menyelamatkan pakaian yang melekat di tubuhnya, sementara perlengkapan sekolah dan kenangan tentang ayahnya, almarhum Riyanto, ikut hanyut bersama banjir.
Di saat yang sama, Ibu Nikmatin harus menerima kabar duka dari perantauan. Jauh dari rumah, ia kehilangan putri tercinta sekaligus tempat tinggal yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

Kisah Nur Hidayat menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada rusaknya bangunan, tetapi juga memutus rasa aman, pendidikan, dan masa depan. Literasi kemanusiaan kini diuji, bagaimana kepedulian lintas wilayah antara Kecamatan Karangreja dan Mrebet dapat terbangun untuk memastikan seorang siswa tidak kehilangan harapan.
Sang paman yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban terus berupaya mendampingi dan memastikan Nur tetap melanjutkan sekolah meski berada di tengah keterbatasan.

“Sekarang saya tinggal di rumah nenek di Mrebet. Jauh dari rumah lama, jauh dari sekolah. Tapi saya harus tetap bangkit, demi ibu dan demi mimpi kakak yang ingin melihat saya sukses,” tutur Nur Hidayat dengan suara tegar.

Tragedi ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa di balik angka dan data bencana, ada manusia yang kehilangan dunianya dalam satu malam. Nur Hidayat bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sosok, kenangan, dan masa kecilnya. Ia membutuhkan uluran tangan agar pelita harapan tetap menyala, meski pelita ngaji di desanya telah padam.
Di tengah duka tersebut, secercah harapan mulai tumbuh. Saat berita ini dirilis, warga secara bergotong royong tengah membangun rumah sederhana untuk Ibu Nikmatin di lahan miliknya sendiri di Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet. Kepedulian lintas wilayah pun terbangun, di mana material bangunan disubsidi oleh Pemerintah Desa Serang bekerja sama dengan Ranting NU Desa Serang Kecamatan Karangreja.
Informasi tersebut disampaikan oleh Saryono, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Karangreja. Menurutnya, semangat kebersamaan warga menjadi bukti bahwa duka akibat bencana dapat dipikul bersama.

“Warga bergerak bersama membangun rumah untuk Bu Nikmatin di Mrebet. Lahannya milik beliau sendiri, sementara bantuan material berasal dari Pemdes Serang. Ini bentuk kepedulian lintas desa agar keluarga korban bisa kembali bangkit,” jelas Saryono.
Bagi Nur Hidayat, bantuan tersebut menjadi penguat langkah di tengah kehilangan. Meski hidupnya berubah drastis dalam satu malam, ia bertekad untuk tidak menyerah.
“Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dan ibu saya, semoga menjadi amal jariyah untuk bapak, ibu, dan saudara sekalian,”, ungkapnya penuh haru.
Kontributor/Foto : Yon
Editor : Sri Lestari