Menumbuhkan Rasa Disiplin Anak Dengan Berpuasa

Menumbuhkan Rasa Disiplin Anak Dengan Berpuasa

Oleh : Makhtup, S.Pd.I)*

 

BULAN ramadhan atau yang sering dikenal dengan sebutan bulan puasa menyimpan beberapa kultur ibadah dimasyarakat. Dimana kultur  ibadah seperti salat taraweh, tadarus Al Qur’an di masjid dan mushola, membangunkan orang untuk bersahur dengan cara membunyikan kentongan berkeliling kampung  sangat dinanti nantikan oleh masyarakat muslim di Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Kebiasaan tersebut menandakan bahwa bulan ramadhan sudah datang sebagai tamu yang agung “Marhaban ya ramadhan” itu sambutan yang sering dikumandangkan.

Kaum muslim saling berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dalam beribadah, baik ibadah mahdlah maupun ghairu mahdlah. Ibadah Mahdlah adalah segala macam ibadah yang dinyatakan secara khusus mengenai tata caranya, waktunya, ukurannya, dan termasuk rinciannya. Yang tergolong ibadah mahdlah yaitu ibadah yang tercakup dalam dasar-dasar islam (rukun Islam) yakni syahadat, shalat, puasa ramadhan, zakat, dan haji.  sedangkan ibadah ghairu mahdlah adalah ibadah yang beersifat umum yang diijinkan oleh Allah yaitu diantaranya shadaqah, infaq, berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidaiin), dan berbuat baik kepada tetangga. M. Dailamy SP. (2008:4-5).

Puasa dalam bahasa arab disebut shaum atau shiyam. Menurut pengertian teknis yang diperkenalkan syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw, adalah menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan-perbuatan tertentu yang bersifat badani (fisik) sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Prof. Dr. H. Said Agil Husain Al Munawar, M.A. (2004:333-334).

Selama satu bulan penuh anak dilatih untuk dapat mengendalikan diri, bersabar dalam menanti waktu berbuka puasa, selama seharian tidak boleh makan dan minum serta melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Oleh Karena itu, barometer keberhasilan puasa tidak hanya peningkatan kedisiplinan anak kepada sang khaliq saja melainkan juga dapat meningkatkan kedisiplinan anak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berpuasa anak hendaknya memiliki introspeksi dan kemampuan menjaga diri dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dengan mejalankan ibadah puasa, anak dilatih untuk menegakkan disiplin terhadap diri sendiri dan disiplin terhadap masyarakat. Melalui puasa anak dilatih untuk mengefektifkan kontrol diri agar tidak tergoda dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasa ataupun yang merusak pahala puasa.

Betapapun kerasnya tuntutan dan kebutuhan untuk membina dan memelihara kedisiplinan anak di tengah gempitanya euphoria kebebasan saat ini. Namun, hal itu tetap berpulang pada keteguhan hati anak dalam menghayati makna kehidupan dengan didasari disiplin pribadi yang tinggi.

Tidak kita pungkiri, dewasa ini masih banyak realitas anak-anak yang berpuasa tetapi perilaku dan kegiatan sehari-hari masih jauh dari kesalehan. Lebih miris lagi tidak berpuasa kelihatannya menjadi kebanggaan anak sehingga secara terang-terangan membuka aibnya sendiri makan, minum, dan merokok (bagi anak laki-laki) di pinggir jalan raya bahkan sambil membawa motor.

Ibadah puasa yang dikerjakan anak  seharusnya mempunyai pengaruh yang baik dalam jiwa dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Anak cenderung berpuasa hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan lingkungan keluarga dan masyarakat yang rajin beribadah ketika bulan ramadhan. Setelah bulan puasa usai lingkungan keluarga dan masyarakat akan kembali beribadah seperti semula lagi.

Oleh karena itu, sedikit banyaknya pengaruh kedisiplinan anak tergantung kepada orang tua yang yang mempunyai peran utama sebagai tauladan di rumah yang andil besar terhadap keberhasilan menanamkan kedisiplinan anak serta lingkungan yang baik juga dapat mensukseskan kedisiplinan anak seperti kata pepatah “menanam padi akan tumbuh ilalang, tetapi menanam ilalang belum tentu tumbuh padi”.

*) Penulis adalah guru kelas MI Ma’arif NU 2 Baleraksa, Karangmoncol, Purbalingga.

editor & publisher : sri lestari

Bagikan :
Translate »