Mental pemberi maaf kunci memperkokoh kebersamaan dalam keberagaman

Purbalingga – Ketua Dharma Wanita Persatuan ( DWP ) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Lailatul Qodar Karsono beserta pengurus dan anggotanya mengikuti Halal Bihalal Nasional virtual, bertempat di aula lantai 2, Senin (07/06). Disiarkan langsung dari kanal Youtube Kemenag Rembang News,  Halal Bihalal ini menghadirkan pendakwah K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, yang dikenal dengan Gus Baha. Mengusung tema “Memperkokoh silaturahim dalam  kebersamaan dan keberagaman”.

Selaku Penasihat DWP Kementerian Agama Repeublik Indonesia, Eni Retno Yaqut dalam sambutannya mengatakan bahwa salah satu program priorotas kebijakan Kementerian RI tahun 2021 adalah penguatan moderasi beragama. Sebagaimana gayung bersambut, DWP turut berperan serta melalui berbagai kegiatan untuk mensukseskan program tersebut.

“Argumen yang paling krusial moderasi beragama bersumber pada fakta bahwa masyarakat Indonesia sangat plural multi kultural baik secara suku, etnis, agama, bahasa, dan budaya. Secara geografis adalah negara kepulauan terbesar sehingga secara sosio politik Indonesia memiliki landasan yang kuat dalam mengembangkan program-program strategis dalam moderasi beragama, kerukunan beragama dalam konteks ke-Indonesiaan”, kata Eni.

Ia melanjutkan, bahwa akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan, provokasi maupun ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga negara di dunia. Hal ini telah mengikis dan mengaburkas rasa saling menghormati, toleransi, kasih .sayang, perdamaian dan persatuan

“Bukan tugas Kementerian Agama saja, tetapi menjadi tugas bersama untuk mensyukuri dan menghargai keberagaman tersebut serta harus terus mampu mengelola perbedaan-perbedaan ini dengan baik dan bijaksana demi persatuan nasional dan kemajuan bangsa Indonesia”, ajaknya.

Mental memberi maaf

“ Dari zaman dulu sudah terbiasa hidup berdampingan dan  tidak pernah menjadi masalah. Jika saat ini ada masalah , mungkin kurangnya sosialisasi dan kurang saling memaafkan”, kata Gus Baha mengawali tausiyahnya.
Gus Baha menyitir sebuah kisah tentang  contoh hidup berdampingan dengan agama lain. Ada seorang Majusi kelaparan. Nabi Ibrahim memberikan syarat agar orang Majusi itu masuk Islam dan akan diberi makan. Allah mewahyukan agar  Nabi  Ibrahim  memberi  makan tanpa syarat. Dipanggilah Majusi itu dan diberi makan oleh Nabi Ibrahim.
“Cerita ini intinya memaafkan adalah kata kunci untuk bersosialisasi dengan keluarga, tetangga dan semua masyarakat kita bangsa Indonesia’, tuturnya.

Sifat dasar Nabi Muhmmad SAW adalah pemaaf. Suatu saat Nabi terluka yang disebabkan oleh musuh-musuhnya. Seorang Sahabat menyarankan agar Nabi melaknat musuh tersebut. Nabi menjawab “Saya ini tidak ditugaskan Allah untuk menjadi tukang laknat, tetapi diutus untuk berdakwah yang baik. Ya Allah berilah hidayah kepadanya karena mungkin perilakunya berdasarkan ketidaktahuan”.

“Menjadi pelajaran bagi kita bahwa perilaku tetangga bisa jadi kita tidak cukup memberi mereka edukasi,  pengetahuan  atau sosial. Ulama jaman dulu hidupnya hanya berhubungan dengan Allah, tidak memakai ilmu sosial. Ini penting, ilmu sosial dapat menjengkelkan. Jika kita baik dengan orang lain kemudian orang lain tidak baik dengan kita maka kita jengkel. Maka jika kita berbuat kebaikan atasnamakan Allah agar kita tidak mudah jengkel dan kecewa”, petuahnya.

“Memberi itu ibadah, ini heroik. Beda dengan niat mendapat. Memberi itu lebih barokah dan semuanya baik-baik saja. Sedangakan niat mendapat ini akar masalah. Menata bangsa dimulai dari mental memberi, memberi maaf”, ajaknya. ( sl )

 

Bagikan :
Translate ยป