Purbalingga (Humas) — Kasubbag Tata Usaha Kankemenag Kabupaten Purbalingga, Sudiono, menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan bertajuk “Transformasi Pembelajaran PAI Berbasis Cinta: Membangun Generasi Berkarakter, Berempati, dan Bernalar Kritis di Era Digital” yang digelar di Pendopo Dipokusumo, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan ini diikuti lebih dari 500 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Purbalingga dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional. Seminar terselenggara melalui sinergi dan kolaborasi berbagai elemen, khususnya jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga.

Sebelum seminar dimulai, dilaksanakan pengukuhan pengurus DPD AGPAII Kabupaten Purbalingga periode terbaru, penyerahan tali asih kepada sembilan insan pendidikan, serta aksi sosial bagi peserta didik sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Purbalingga, Suroto, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memajukan pendidikan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai momentum memperkuat komitmen bersama dalam mencetak generasi unggul.
Sebagai narasumber, Sudiono mengangkat konsep “Kurikulum Berbasis Cinta” sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan nilai kemanusiaan. Ia menyoroti tantangan dehumanisasi di era digital yang berpotensi menggerus nilai empati dan akhlak peserta didik.
“Pembelajaran berbasis cinta menjadi jawaban atas fenomena dehumanisasi. Di dalamnya terdapat penguatan moderasi beragama, pembentukan akhlak mulia, serta penanaman nilai empati yang harus dihadirkan dalam proses pendidikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, menekankan pentingnya digitalisasi pembelajaran, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung pembelajaran berbasis cinta. Ia menyebut guru PAI memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam pembangunan karakter siswa.
“Guru PAI adalah ujung tombak dalam membentuk karakter generasi muda. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, nilai-nilai cinta dan kemanusiaan dapat semakin kuat ditanamkan,” ujarnya.
Melalui seminar ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif bahwa transformasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada nilai-nilai cinta, empati, dan karakter sebagai fondasi utama pendidikan di era digital.