Purbalingga (Humas) — Kepedulian terhadap warga terdampak banjir bandang di wilayah lereng Gunung Slamet terus mengalir. Penyuluh Agama Islam, penghulu, dan staf Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karanganyar melakukan kunjungan ke Posko Layanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Kamis (29/1/2026).

Kunjungan tersebut dilaksanakan di dua lokasi terdampak bencana, yakni Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, serta Desa Serang, Kecamatan Karangreja. Kehadiran jajaran KUA Karanganyar menjadi wujud empati sekaligus solidaritas antarsatuan kerja Kementerian Agama terhadap para korban bencana alam.
Dalam kunjungan itu, rombongan KUA Karanganyar tidak hanya menyerahkan bantuan logistik, tetapi juga menyapa dan berdialog langsung dengan warga terdampak, baik di lokasi pengungsian maupun di titik-titik bencana. Sapaan hangat dan komunikasi yang terjalin diharapkan mampu memberikan penguatan moril serta menumbuhkan semangat warga dalam menghadapi masa pemulihan pascabencana.
Sebagai bentuk kepedulian, KUA Karanganyar menyerahkan bantuan berupa 5 dus mi instan dan 30 buah bantal untuk para pengungsi. Selain itu, makanan ringan berupa dimsum juga diberikan kepada para relawan yang bertugas di Posko Layanan Keagamaan Kemenag Purbalingga.
Banjir bandang dan longsor diketahui terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 hingga 03.00 WIB, akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan lereng Gunung Slamet. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, dampak kerusakan tercatat cukup signifikan di sejumlah wilayah.
Di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, sebanyak 78 rumah terdampak luapan banjir, tujuh rumah hanyut, dan tiga rumah mengalami kerusakan berat. Selain itu, puluhan hewan ternak dilaporkan hanyut dan mati, dua jembatan terputus, serta tujuh sepeda motor dan dua mobil hilang terbawa arus.
Sementara di Kecamatan Karangreja, tepatnya Desa Kutabawa Dusun Bambangan, tercatat 29 rumah rusak ringan, sekitar 60 hektare lahan pertanian gagal panen, 1.000 sak pupuk dan sejumlah alat pertanian hilang, serta tiga sepeda motor hanyut. Akses jalan kabupaten juga tertutup material longsor sepanjang kurang lebih 12 meter, dan jembatan penghubung Kutabawa–Clekatakan dilaporkan ambruk.
Kerusakan terparah terjadi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja. Di Dusun Kaliurip, sebanyak 36 rumah rusak berat akibat tertimbun lumpur, batu, dan kayu, enam rumah rata dengan tanah, serta sekitar 500 jiwa terpaksa mengungsi. Adapun di Dusun Gunung Malang, tercatat 12 rumah rusak berat, enam rumah terancam, dua ruas jalan kabupaten terputus, dan dua jembatan mengalami kerusakan.
Salah satu Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar, Sayono, menyampaikan keprihatinan dan doa bagi para korban bencana.
“Kami turut prihatin dan berduka atas musibah banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sangkanayu dan Serang. Semoga para korban diberi ketabahan dan kekuatan, serta Allah SWT segera mengganti musibah ini dengan kebaikan dan kemudahan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran KUA Karanganyar di lokasi bencana merupakan bagian dari ikhtiar kemanusiaan dan pelayanan keagamaan, agar masyarakat terdampak merasa tidak sendiri dan tetap mendapatkan pendampingan, baik secara sosial maupun spiritual, di tengah situasi sulit.
Kontributor : Artanti Laili Zulaikha
Editor : Sri Lestari
Foto. Dok. KUA Karanagnyar
;