Kankemenag Purbalingga Gelar Bimtek Moderasi Beragama Bagi Penghulu

Kakankemenag Purbalingga H. Muhammad Syafi’ menyampaikan motivasi dan materi pada kegiatan Bimtek Moderasi Beragama didampingi Kasi Bimas Islam H. Sarif Hidayat.

Purbalingga – Bertempat di Braling Grand Hotel Purbalingga, Selasa (28/6/2022) Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga menggelar kegiatan  Bimbingan Teknis (Bimtek) Moderasi Beragama Bagi Penghulu. Kegiatan yang diikuti 30 peserta tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Muhammad Syafi’.

Plt. Kasubbag TU sekaligus Kasi Bimas Islam H. Sarif Hidayat dalam laporannya menyampaikan, kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi Seksi Bimas Islam.

“Moderasi beragama ini memang sedang digencarkan dan menjadi prioritas Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga,” ujarnya.

Kepala Kankemenag Purbalingga H. Muhammad Syafi’ dalam sambutan pembukaannya mengajak para Penghulu dan Penyuluh Agama yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk mendukung kesuksesan program moderasi beragama di kabupaten Purbalingga.

“Moderasi beragama ini merupakan implementasi dari ajaran agama kita. Maka sebagai warga Kementerian Agama, wajib hukumnya bagi kita untuk mendukung dan menyukseskannya,” pesannya.

Ia menambahkan, moderasi beragama merupakan sebuah keniscayaan. Karena telah dituliskan di dalam kitab suci Al Quran.

“Seandainya Tuhanmu menghendaki maka Ia (Allah) akan menjadikanmu sebagai umat yang satu,” ujarnya.

Maka menurutnya, dalam beragama umat Islam tidak boleh bersikap ekstrim, terlalu berlebihan dalam berbagai hal. Umat Islam seharusnya mengambil posisi di tengah-tengah (tawasuth), sebagaimana sikap yang sering dicontohkan Rasulullah saw.

“Dalam urusan mahabbah (bercinta) saja, kita diajarkan untuk mengambil posisi tengah-tengahnya saja. Janganlah kalian terlalu mencintai seseorang, karena boleh jadi orang yang kalian cintai itu akan menjadi orang yang kalian benci. Sebaliknya bencilah seseorang  setengahnya saja, karena bisa jadi orang yang engkau benci itu akan menjadi orang yang engkau cintai,” pesannya.

Ia menambahkan, moderasi beragama adalah ajaran Islam sekaligus merupakan sebuah kearifan dalam rangka menjaga keutuhan bangsa dan negara. Menurutnya, bentuk pemerintahan negara Indonesia bukanlah negara Islam. Namun ciri-ciri atau karakteristik Islam ada di dalamnya.  

“Warga negara kita khususnya umat Islam wajib menjaga negara kita dari serangan musuh, sebagaimana halnya warga Madinah – apapun agamanya diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk mempertahankan kota Madinah dari serangan musuh,” jelasnya.

Ia menuturkan, dalam riwayat ada seorang Yahudi yang berzina dan ketika akan dihukum ia sebagai seorang Yahudi meminta agar dihukumi dengan hukum Taurat. Rasulullah SAW pun mengizinkannya.

“Itu mencerminkan kearifan Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, tidak ekstrim,” imbuhnya. * (sar)

Ketua Pokjaluh Jawa Tengah Mahsun selaku narasumber memberikan materi Moderasi Beragama.

Bagikan :
Translate »